Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
HOME
Home » Psikosomatik » Penyakit Asma makin parah Akibat Psikosomatik

Penyakit Asma makin parah Akibat Psikosomatik

Posted at July 5th, 2016 | Categorised in Psikosomatik

psikosomatik memperparah asma

Saya terbangun pada dini hari pukul 03.00 dan tiba-tiba rasa sedih sangatttt memenuhi hati saya. Penyakit asma ayah yang tidak begitu parah, menjadi masalah besar akibat psikosomatik nya. Saya merasa tidak dapat memberikan jalan keluar untuk ayah saya yang menderita penyakit Psikosomatik. Dan saya merasa sangat sedih karena tidak tahu harus melakukan apa, betapa sulitnya merawat papa saya yang selama hidupnya tidak percaya Tuhan.

Secara kasar bisa saja saya mengatakan salah sendiri tidak beriman, tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, dan selalu mengandalkan diri sendiri. Tapi di sisi lain saya merasa sangat kasihan melihat ayah, dan juga saya merasa tidak berdaya untuk menolongnya . Dan ini sangat menyiksa saya.

Setiap mengalami sakit yang tidak sembuh dalam dua hari, ayah saya selalu merasa kuatir, tidak tenang, dan susah tidur. Baik itu sakit batuk, maag, susah BAB, asma, dll. Misalnya sakit batuk, ketika harus minum obat batuk dan antibiotic selama 4-5 hari, kadang ada batuk membandel yang sembuhnya pada hari ke-4. Namun ayah saya sudah tidak sabaran menanyakan terus kenapa batuk tidak sembuh-sembuh dan membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.

Setiap kali sakit (segala macam sakit), ayah saya selalu mengalami phobia malam. Setiap malam selalu kuatir tidak bisa tidur, gelisah lalu minta diantar ke UGD. Ayah merasa lebih tenang jika dibawa ke rumah sakit. Kuatir tentang kematian.

Hal ini semakin menyiksa karena suami saya seorang dokter. Jika indikasi dan keadaan umumnya tidak memerlukan perawatan opname di RS, apakah harus menuruti semua kemauan ayah untuk dirawat di RS? Seperti berhadapan dengan seorang anak kecil yang merengek meminta permen … apakah harus selalu diberikan permennya? Saya kuatir malah anak ini tidak sadar bahwa permen hanya akan merusak giginya. Dalam hal ini dengan menuruti setiap permintaan papa ke UGD setiap malam, saya kuatir akan memperparah psikosomatiknya.

Ini bukan kali pertama saya menghadapi ayah selalu memanggil kami saat tengah malam, dan mengeluh ayah tidak bisa tidur walaupun sudah minum obat tidur. Saya mencoba memberikan pikiran positif pada ayah, misalnya saja tidak bisa tidur sampai pagi (MISALNYA), toh ayah sudah pensiun tidak harus bekerja dengan jam kantor yang ketat? Jadi sekalipun tidak bisa tidur malam hari, bisa juga siang harinya tidur. Dan ayah selalu menjawab, siang hari tidak pernah bisa tidur.

Mengapa demikian? Pikiran negatif sudah mengontrol ayah, dalam pikirannya mempercayai siang tidak bisa tidur. You are what You think. Anda akan menjadi seperti apa yang ada di pikiran Anda. Dalam pikiran ayah, jika malam hari tidak bisa tidur bahaya, maka ayah pasti sakit. Karena tidak mau sakit (menghindari sakit), maka Ayah memanggil saya dan suami, untuk membawanya ke UGD saja. Seperti inilah repotnya merawat penderita psikosomatik.

Dengan sedih saya menolak permintaan ayah malam itu untuk pergi UGD. Karena saya tidak mau ayah selalu kautir dengan pikirannya sendiri, yaitu tidak bisa tidur malam hari selalu minta ke UGD. Berbeda jika ada kegawatan, tentu saja jam berapa pun pasti saya antarkan ke UGD karena memang perlu pertolongan segera.

Akhirnya besok siangnya ayah mau diantar ke UGD karena merasa asma dan batuk mengganggu tidurnya di malam hari. Di Rumah Sakit ayah di uap dengan nebulizer untuk mengencerkan dahak, hanya sekitar setengah jam, lalu boleh pulang.

Mendapat tindakan seperti itu saja ayah sudah merasa diobati dan sembuh. Hari-hari berikutnya sakit asma ayahku berangsur-angsur sembuh. Memang penyakit psikosomatik sangat mempengaruhi pikiran, membuat orang tidak bisa tidur. Sangat kasihan …

Gangguan Psikosomatik adalah Gangguan Pikiran

Sebelum-sebelumnya, jika ayah terlihat mengkuatirkan dan mengeluh tidak bisa tidur, maka saya selalu menuruti kemauan ayah untuk membawanya ke UGD. Karena saya pun ikut panik dan tidak tenang dengan keluhan ayah tidak bisa tidur.

Jam 02.00 subuh saya pernah membawa ayah ke UGD. Anehnya, walaupun dokter di UGD tidak memberikan suntikan/obat apa-apa, hanya oksigen di hidung, dan hanya oksigen ini saja bisa membuat ayahku tenang. Bahkan segera mengantuk dan ayah mengatakan ingin tidur di UGD saja.

Tentu saja tidak diijinkan oleh pihak Rumah Sakit, UGD hanya untuk pasien darurat, bukan rawat inap. Lalu ayah disarankan untuk opname saja. Jika opname, maka ayah akan berada di sebuah kamar sendirian jika saya pulang, perawat tidak ada yang standby, perawat hanya akan datang jika pasien memanggil dengan bel.

Dan ketika mendengar hal ini, tampaknya ayah tidak mau, ayah maunya di UGD saja dengan ditemani banyak tenaga medis. Pikirannya seakan mengatakan, jika terjadi kegawatan di UGD, maka penanganan akan cepat dan aku tidak akan mati, ada banyak perawat dan dokter yang siap menolongku. Kira-kira seperti itulah pola pikir ayah, yang saya baca.

Ayah takut akan kematian. Pikirannya menjadi tidak tenang, sehingga tidak bisa tidur nyenyak. Kenapa harus takut mati? Bukankah setiap orang pasti akan pulang kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan ini? Untuk menjadi pasrah dan iklhas, diperlukan iman kepada Tuhan.

Jika kita mempercayai saatnya ajal menjemput, maka kita tidak perlu takut atau kuatir, hanya perlu berserah kepada Tuhan saja, karena kita datang ke dunia ini juga karena rencana dan kehendakNya.

Jadi ketika kita harus kembali pulang ke sorga, kenapa harus takut dan kuatir? Hal ini memerlukan iman percaya, walaupun kita belum pernah bertemu muka dengan muka Sang pencipta kita.

Bukan berarti penderita psikosomatik adalah orang yang tidak beragama. Ayah saya rajin beribadah, tapi mungkin akibat kesulitan hidup di masa lalunya, membuat ayah beribadah hanya sebagai rutinitas. Agama apapun jika kita tidak menjalankan ajaran agama dengan sungguh-sungguh, itu artinya beribadah hanya sebagai rutinitas.

I wish my father will have a Faith to God, soon … get well soon Dad …