HOME
Home » Psikosomatik » Pengalaman Merawat Ayah Psikosomatik saat Jalan-jalan ke Palangkaraya (Kalimantan Tengah)

Pengalaman Merawat Ayah Psikosomatik saat Jalan-jalan ke Palangkaraya (Kalimantan Tengah)

Posted at June 27th, 2016 | Categorised in Psikosomatik

patung di bukit doa karmel

Terkadang saya seperti masih tidak percaya tentang penyakit aneh yang bernama psikosomatik. Tapi karena ayah saya sendiri yang mengalaminya, dan saya adalah anak yang tinggal serumah dengan ayahku, barulah bisa melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa memang ada gangguan mental yang disebut psikosomatik.

Suatu kali, saya sekeluarga diajak seorang sahabat untuk jalan-jalan ke Palangkaraya, perjalanan ditempuh dengan mobil sekitar 5 jam. Saat itu papa saya mengalami batuk dan asma. Kami berangkat subuh dengan perasaan excited karena ini kali pertama kami berkunjung ke ibukota Propinsi Kalimantan Tengah, Palangkaraya.

Selama perjalanan berangkatnya, ayah sukacita sekali, sampai-sampai batuk nya terlupakan. Memang ayah saya hobby nya jalan-jalan.

jalan-jalan ke Palangkaraya Sampai di sana kami diajak mengunjungi Bukit Doa Karmel, untuk melihat patung-patung perjalanan Tuhan Yesus dalam perjanjian baru. Sangat bagus untuk berfoto-foto disini, hanya saja jangan lupa memakai topi dan juga membawa payung jika ingin kesana. Karena tidak banyak pepohonan sebagai peneduh. Jika sudah sampai puncak bukit lalu hujan turun, terpaksa berhujan-hujan karena tidak ada tempat berteduh. Karena itu sedikit tips buat teman-teman yang ingin jalan-jalan ke Bukit doa Karmel, jangan lupa membawa topi dan payung supaya nyaman saat berlibur kesana.

Selain mengunjungi Bukit Doa Karmel, kami diajak mampir ke rumah kakak dari sahabat kami, tak lupa makan ikan jelawat di sebuah depot di Palangkaraya. Ikan Jelawat adalah ikan sungai khas Kalimantan Tengah, enak sekali rasanya hehehe …

Kami tidak menginap, jadi berangkat subuh dan sore harinya kami pulang. Sebelum pulang, ayah saya batuk-batuk makin parah dan tangannya kaku menguncup seperti gejala psikosomatik, lalu ayah bilang nggak tahan lagi sesak nafas sehingga kami harus mampir di sebuah UGD terdekat di Palangkaraya.

Dokter UGD memeriksa tekanan darahnya normal, dan menanyai obat-obat apa saja yang selama ini diminum. Karena suami saya seorang dokter, maka dijelaskan dengan rinci penyakit apa saja yang diderita ayah saya serta obat-obat yang selama ini dimunum. Dokter UGD tidak memberi resep apapun karena sudah banyak dan lengkap obat yang diminum oleh ayah saya.

Namun bagaimana dengan jari tangan yang kaku? Karena teringat obat dari dokter internis yaitu Aspar-K untuk mengatasi kaku tangan + mulut, jadi kami minta dokter UGD memberikan resep obat tersebut. Namun karena di Palangkaraya rumah sakit nya kecil, obat-obatnya tidak lengkap, mereka tidak mempunyai stok Aspar-K maupun merk lain yang isinya sama.

Lalu tiba-tiba suami saya mempunyai ide. Mungkin ide yang kurang jujur namun brilliant dan sifatnya memberi jalan keluar. Suami saya telah mengamati riwayat medis ayah sejak kami menikah, sudah sejak lama suami mengetahui ayah menderita gangguan psikosomatik. Penderita penyakit ini, memerlukan SUGESTI supaya sembuh dari penyakitnya.

Ayah saya dipenuhi kekuatiran apakah bisa menempuh perjalanan pulang ke Banjarmasin selama 4-5 jam dari Palangkaraya, dengan kondisi batuk-batuk parah. Kekuatiran inilah yang membuatnya ketakutan, tanpa dia sadari tangan dan mulutnya kaku seperti orang mengalami hysteria.

sugesti diperlukan penderita gangguan psikosomatik Jika mengalami tangan dan mulut kaku, selama ini ayah selalu mempercayai dokter internis yang mengatakan kaku disebabkan karena kekurangan Kalium, jadi harus mengkonsumsi Obat yang bernama Aspar-K. Lalu karena stok Aspar-K tidak ada di Rumah Sakit kecil tersebut, maka suami saya memberi IDE untuk memberikan obat pengganti hanya sebagai SUGESTI saja supaya ayah sembuh.

Bagaimana jika Aspar-K yang tidak ada, diganti dengan vitamin Becom-C tapi dicurai (dibuang bungkusnya sehingga tidak bisa terbaca merknya apa dan isinya apa, hanya dimasukkan dalam sebuah klip plastik). Lalu mengatakan kepada ayah bahwa obat itu sama dengan Aspar-K hanya berbeda merk (beda pabrik). Becom-C adalah vitamin C.

Sebenarnya sangat berat untuk tidak jujur kepada ayah saya, namun saya pikir ide ini untuk kebaikan dan kesembuhan ayah saya sendiri, yang memerlukan sugesti untuk bisa sembuh. Akhirnya dilakukanlah ide cemerlang suami saya itu, sambil berdoa supaya kaku pada tangan ayah dan batuknya segera sembuh.

Dan memang benar hasilnya sesuai dugaan sebelumnya, ayah menjadi sehat dan kuat menempuh perjalanan panjang saat pulang ke Banjarmasin setelah meminum Becom-C (baca : Aspar-K). Sungguh aneh tapi nyata kan? Obatnya Vitamin C saja yang diakui sebagai Aspar-K dapat menyembuhkan kekuatiran pada ayah. Mengapa demikian? Karena pendeita psikosomatis selalu kuatir dan takut tentang sesuatu, dalam hal ini ayah kuatir tidak sanggup menempuh perjalanan yang lama dalam kondisi batuk dan asma. Mungkin juga takut meninggal? Who knows. Yang pasti kekuatiran / pikiran negative inilah yang membuat tubuhnya mengalami sakit dan makin parah jika tidak ditangani.

Dari pengalaman di Palangkaraya ini, kami benar-benar melihat betapa anehnya gangguan pikiran/gangguan mental yang bernama psikosomatik. Semoga ayah bisa sembuh dari penyakit aneh yang seringkali membuat kehebohan ini.