Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
HOME
Home » Psikosomatik » Dokter Internis tidak mempercayai Ayah Menderita Psikosomatik

Dokter Internis tidak mempercayai Ayah Menderita Psikosomatik

Posted at June 25th, 2016 | Categorised in Psikosomatik

dokter internis tidak percaya psikosomatik

Selama tinggal serumah dengan saya dan suami, jika ayah saya mengalami sakit, maka pertama kali akan diperiksa dan diobati oleh suami saya yang berprofesi sebagai dokter umum. Namun seringkali jika lebih dari dua hari tidak kunjung sembuh, maka ayah akan tampak lesu, mengeluh tidak bisa tidur, nafasnya seperti ditarik-tarik, menanyakan terus kenapa belum sembuh juga sakitnya, dan akhirnya minta diantar ke dokter spesialis penyakit dalam (internis) untuk penanganan lebih spesifik (berlaku untuk hampir semua penyakit).

Suatu sore ayah saya mengalami kaku tangannya posisi menguncup yang sangat khas, bahkan saat itu mulutnya ikut kaku jika dilihat tampak seperti perot (seperti orang stroke yang susah ngomong), bahkan untuk memegang sendok saja tidak bisa karena kedua tangannya kaku. Jadi saya coba untuk menyuapi ayah saya. Sangat sedih melihatnya kenapa sepertinya parah sekali sakit ayahku.

Dengan keadaan kedua tangan dan mulut juga kaku, kami berangkat ke Dokter Internis. Antrian berobat cukup banyak, sehingga kami harus menunggu lumayan lama. Sambil menunggu, ayah saya selalu tidak sabaran, dia keluar masuk ruang tunggu menanyakan kapan gilirannya. Tapi anehnya, sebelum menemui dokter internis, tangan dan mulut yang kaku sudah kembali normal. Padahal belum ketemu dokternya tapi ayah sudah sembuh … sungguh aneh tapi nyata. Akhirnya dokter internis melakukan USG, lalu menyuruh ayah untuk pemeriksaan darah di laboratorium.

Dokter internis mengatakan semua hasil pemeriksaan darah dan USG di bagian perut, dinyatakan normal. Lalu kenapa tangan dan mulut ayah saya kaku dok? Oh itu karena kekurangan kalium. Padahal hasil pemeriksaan Laboratorium untuk kalium, hanya berbeda sangat sedikit angkanya jika dibandingkan angka normalnya kadar kalium. Lalu pesan dari suami saya, untuk menceritakan perihal gangguan psikosomatik kepada dokter internis.

Saya coba ceritakan tentang gangguan psikosomatik yang dialami ayah saya, karena ini bukan kali pertama terjadi, bahkan saat saya masih SD dulu, ayah saya sering tiba-tiba kakinya lemas seperti lumpuh tidak bisa menahan badannya, hingga harus diangkat orang lain. Setelah beberapa hari lumpuh dan tergeletak di tempat tidur, tiba-tiba kakinya normal kembali dan bisa berjalan lagi.

Harapan suamiku, dengan menceritakan gangguan psikosomatik ini, dokter internis dapat meringankan bahkan menyembuhkan ayah saya. Tapi saya juga tidak mengerti kenapa, dokter internis dengan tegas mengatakan ayah saya bukan psikosomatik, hanya kekurangan kalium saja sehingga tangan dan mulutnya kaku, selain diberikan resep Aspar-K, disarankan banyak mengkonsumsi pisang.

Dari nadanya, saya menangkap dokter internis malah menduga apakah suami saya “ada masalah” dengan papa saya? Kenapa mendiagnosa psikosomatik kepada mertuanya, menimbulkan kesan menantu yang tidak akur dengan mertuanya, OMG.

Namun saya rasa dalam hal ini dokter internis juga bisa salah … karena saya paling tahu suamiku adalah orang yang paling sabar dalam merawat papa saya, hanya saja ayah kurang sabar menunggu reaksi dari obatnya bekerja, tidak sabar untuk segera sembuh. Hahaha kadang saya bercanda dengan suami, seandainya kamu Magician mungkin bisa menyulap ayah sembuh dalam 2 jam untuk semua jenis penyakit.

Kebenaran psikosomatik ayah saya ini dibuktikan dalam beberapa pengalaman yang saya alami sendiri ketika merawat ayah saya penderita psikosomatik, misalnya saat kami berjalan-jalan ke Palangkaraya, simak terus yaaa …