HOME
Home » Pengalaman Pribadi » Psikosomatik » OMG … Ternyata Ayah saya Penderita Psikosomatik

OMG … Ternyata Ayah saya Penderita Psikosomatik

Posted at June 18th, 2016 | Categorised in Pengalaman Pribadi, Psikosomatik

tidak bisa tidur adalah salah satu gejala psikosomatik

Saya tidak menyadari ternyata sejak saya masih kecil, ayah saya menderita penyakit psikosomatik. Saya baru menyadarinya setelah saya berusia 30 tahun, itupun karena suami saya seorang dokter umum yang memberitahu tentang penyakit aneh tersebut. Dan inilah suka duka pengalaman mempunyai ayah penderita psikosomatik.

Saat itu saya masih SD sekitar kelas 4, karena pekerjaan kurang sukses, sementara biaya hidup terus berjalan, maka ibu saya mengambil keputusan sulit yaitu meninggalkan suami dan ke-4 anaknya untuk pergi ke Jepang dan bekerja. Kasian ibu jika mengingat saat-saat itu. Ayah saya tidak pernah hidup terpisah dengan ibu dalam waktu yang lama, mungkin hal ini sangat menyiksanya.

Tiba-tiba ayah saya lemas dan tidak bisa berjalan. Bahkan untuk membalikkan badan sendiri saat tidur pun tidak bisa, ayah selalu memanggil kami anak-anaknya bergantian, untuk membantunya duduk jika ingin minum atau buang air kecil di pispot yang disediakan dalam kamarnya, membalikkan badan, ataupun menggaruk punggungnya. Sungguh masa-masa yang sulit dan menyedihkan untuk kami semua, Hidup tanpa ibu membuat kami sangat sedih dan juga rindu karena ibu di Jepang selama 3 bulan.

Setelah mengalami kelumpuhan sekitar 2-3 mingguan, ayah tiba-tiba sembuh dengan sendirinya, kakinya tiba-tiba bisa digerakkan perlahan, lalu bisa duduk sendiri, dan akhirnya bisa berjalan dan aktivitas normal kembali.

karena pekerjaan sebelumnya bangkrut, maka ayah dan ibu saya mencoba membuka toko kelontong di rumah. Namun ternyata toko tidak berjalan dengan sukses juga, mungkin karena besarnya biaya hidup untuk menyekolahkan anak-anaknya, sehingga toko yang baru dengan modal pas-pasan tidak mampu menanggung besarnya biaya hidup kami.

Mungkinkah psikosomatik terjadi akibat stress? Mungkin juga tanpa disadari ayah saya, himpitan ekonomi, kesulitan hidup, dan harga dirinya yang tidak berarti, membuat mentalnya terganggu. Kuatir dan cemas berlebihan akan masa depan anak-anaknya, sungguh kasihan ayah saya …

Pernah suatu kali, ayah saya harus menjalani operasi katarak pada salah satu matanya. Operasi berjalan dengan sukses, besok seharusnya sudah boleh keluar rumah sakit dan pulang. Tapi besoknya, saat itu perban di mata ayah belum dibuka. Tiba-tiba ayah saya merasa kaki nya lemas dan lumpuh tidak bisa berjalan. Dokter mata juga sempat bingung dengan keadaan ayah saya, belum pernah dokter ini mengoperasi mata pasien yang mengakibatkan kelumpuhan kaki.

Pada hari ke-4 di rumah sakit mata Undaan Surabaya, perlahan kaki ayah bisa digerakkan, lalu hari ke-5 bisa berjalan normal kembali, sungguh aneh tapi nyata. Jika ayah saya berpikir, itu karena sebelum operasi katarak, dia sempat bermain basket sehingga kelelahan kakinya tidak bisa berjalan, benarkah demikian?

Kakak sulung saya pernah bercerita, saat itu dia dan ayah turun dari kereta api mau pulang ke rumah kami. Tiba-tiba ayah panik dan menyuruh kakak saya segera mencari tukang becak untuk menolongnya karena ayah merasa tiba-tiba kakinya terasa lemas seperti tidak kuat berdiri. Setelah dinaikkan diatas becak, sampai di rumah ayah dapat berjalan normal kembali.

Saat saya masih kecil, ayah bisa menyetir sepeda motor dan mobil. Tapi tidak lama kemudian, ayah seperti tidak berani lagi menyetir karena sering panik dan gemetar katanya.

Jika ayah sakit, dia punya langganan seorang dokter umum, dokter ini teman sekelas ayah saya saat sekolah dulu. Hari ini datang berobat ke dokter, jika besoknya belum sembuh ayah akan segera datang lagi ke dokter ini menanyakan kenapa belum sembuh, dan minta obat yang lebih bagus. Hingga suatu kali dokter ini berkata kepada ayah saya, dia tidak sanggup lagi menangani penyakit ayah saya, jadi ayah disuruh berobat ke Surabaya saja. Jangan-jangan dokternya pusing punya pasien seperti ayah saya yang tidak sabaran menunggu reaksi obatnya, datang berkali-kali ke tempat praktek dokter ini dengan keluhan yang sama, seperti kurang mempercayai dokternya, menganggap dokternya tidak mampu mengobati penyakit ayah, OMG … semoga itu hanya pikiran saya saja.

Saat saya sudah menikah, saya langsung pindah ke Banjarmasin mengikuti tugas PTT suami. Selama saya tinggal di Banjarmasin, sudah sering saya menerima telpon dari ibu, memberi kabar bahwa ayah opname di Rumah Sakit. Lalu 2-3 hari keluar Rumah Sakit, ayah sudah sehat kembali. Ayah merasa tenang dan damai jika berada di Rumah Sakit, mungkin dalam pikirannya dekat dengan para medis yang siap menolongnya setiap waktu.

Setelah 3 tahun tinggal di Banjarmasin, akhirnya ayah dan ibu mau tinggal bersama saya dan suami di Banjarmasin. Dan sejak tinggal dengan suami saya yang seorang dokter umum, ayah saya jarang opname Rumah Sakit lagi. Hanya saja namanya orangtua ada saja keluhannya, terutama kecemasan di malam hari, kuatir tidak bisa tidur.

Bagi ayah saya, tidak bisa tidur = sakit. Pikirannya selalu seperti itu. Saya sudah berulangkali menyadarkannya, sekalipun tidak bisa tidur di malam hari, nanti besok siangnya tentu bisa diistirahatkan lagi. Tapi ayah saya selalu menjawab siang hari ayah tidak pernah bisa tidur siang. Aduh sungguh kasihan ayah saya menderita psikosomatik, selalu lekat dengan kekuatiran tidak bisa tidur. Seringkali gelisah di malam hari, padahal siang hari ayah selalu sehat dan segar. Bahkan beberapa kali sudah minum obat tidur tapi masih ada mengeluh tidak bisa tidur.

OMG … Ternyata Penderita Psikosomatik seperti ayah saya sungguh kasihan selalu kuatir, cemas dan sering tidak bisa tidur … masih banyak pengalaman saya tinggal bersama ayah penderita psikosomatik.