HOME
Home » Pengalaman Pribadi » Memasak - instagram @amy_housefp » Inspirasi Memasak dari Nenek Sebelum Beliau Pergi – Kisah tentang Cinta Seorang Nenek untuk seluruh Keluarga melalui Memasak

Inspirasi Memasak dari Nenek Sebelum Beliau Pergi – Kisah tentang Cinta Seorang Nenek untuk seluruh Keluarga melalui Memasak

Posted at April 26th, 2017 | Categorised in Pengalaman Pribadi, Memasak - instagram @amy_housefp

Cinta Seorang Nenek untuk seluruh Keluarga melalui MemasakKisah ini ditulis berdasarkan pengalaman hidup dan cinta dari Ibu saya, yang dia berikan kepada kami sekeluarga melalui dunia memasak yang disukainya.

Sejak menikah tahun 2000, kami hidup serumah dengan Ayah dan Ibu yang sangat kami sayangi dan kami hormati. Mengikuti anak-anak saya yang memanggil kakek dan Neneknya, saya dan suami pun terbiasa memanggil ayah dan Ibu saya, dengan panggilan kakek dan nenek.

Setiap hari kami berbagi tugas dengan sukacita, saya bertugas merawat anak-anakku yang luar biasa sejak mereka bayi, suami mencari nafkah, kakek yang sudah tidak bekerja setiap pagi berjalan kaki belanja ke pasar, sekalian berolah raga di pagi hari. Sedangkan Nenek, lebih banyak di rumah bertugas memasak untuk kami semua.

Masakan nenek? Wow jangan ditanya lagi … lezat dan wangi, nggak kalah dengan menu-menu di restaurant lho, baik itu masakan jawa seperti Sayur Lodeh, Rawon, Soto, Terik, Kare Ayam, Semur, dan masih banyak banget menu yang bisa dibuat oleh tangan hebat Nenek kami.

Dan juga ada banyak menu-menu Chinese food yang menjadi andalan Nenek, hampir semua masakan Nenek top markotop, tiada tandingan rasanya. Bahkan hanya tumis kangkung atau tumis buncis, kelezatannya diakui oleh teman-teman saya yang pernah datang ke rumah dan mencicipi suguhan masakan Nenek. Bener-bener enak lho …

Anak saya si bungsu, sejak usia MPASI (makanan pendamping ASI), yaitu 6 bulan hingga 18 bulan, sangat susah makan. Bubur atau makanan apapun susah banget masuk ke mulutnya, maunya minum ASI aja hingga usia 24 bulan. Setiap kali melihat makanan yang disiapkan untuknya, si bungsu selalu terlihat mual dan mau muntah. Tak jarang mengalami muntah sedikit jika melihat makanan, saat itu usianya diatas setahun lebih. Alhasil badannya kurus kering, kalau langsing mah bagus ya … ini kurus seperti kurang gizi hahaha … mungkin ASI aja kurang kali ya.

Untunglah kondisi tersebut mulai berubah sejak si Bungsu berhenti ASI usia 2 tahun, dan juga berkat masakan Nenek yang luar biasa. Nenek menyiapkan menu-menu berkuah yang bersih, tidak berminyak dan segar. Rupanya si Bungsu sangat menyukai menu berkuah buatan Nenek, padahal sebelumnya untuk memasukkan sesuap makanan ke mulutnya saja sungguh sulit penuh perjuangan. Berkat makanan berkuah seperti Ayam Tim, Daging Sapi Tim, Telur Tim, Sup daging sapi, dll, akhirnya si Bungsu pun perlahan-lahan berubah dari kurus kering menjadi gemuk berisi, Luas biasa bukan masakan Nenek kami?

Setiap sebulan 1x kami mengadakan acara berkumpul di rumah saya untuk berdoa, bergantian juga di rumah teman-teman lain juga. Setiap kali acara ini diadakan, masakan Nenek selalu ditunggu-tunggu oleh teman-teman. Mulai Tanghun, Ceker Ayam, Soto, Lodeh Nangka Muda, Mie Goreng, Koloke, dan masih banyak lagi menu-menu hebat yang bisa dibuat oleh Nenek. Dan seperti biasa, semua yang menikmati suguhan masakan Nenek selalu berkata lezat dengan kagum, tak jarang mereka nambah hingga makanan yang disediakan habis.

Selain memasak, Nenek juga pintar mengolah beberapa cemilan yang enak, salah satunya lemet (terbuat dari singkong parut + kelapa parut + sedikit gula merah, dibungkus daun pisang, lalu dikukus). Pernah suatu kali, kami diajak berlibur ke palangkaraya oleh seorang teman (Nenek dan Kakek juga ikut), lalu Nenek membawa bekal kudapan lemet dan rujak manis (buah-buahan) sebagai camilan. Ternyata bekal yang disiapkan Nenek ibarat oasis di tengah gurun pasir, Lemet dan Rujak manis sungguh dinikmati oleh semua teman-teman yang ikut berlibur. Duduk-duduk di bawah pohon rindang sambil menyantap bekal yang disiapkan Nenek sungguh moment yang special dan berkesan.

Jika dipikir-pikir, apa yang dibuat oleh Nenek, hanyalah menu-menu sederhana, bahan-bahannya pun nggak susah dicari, semuanya tersedia di pasar, bukan juga menu-menu mewah yang mahal, tapi apapun masakannya terasa lezat dan akrab di lidah.

Mungkin karena passion Nenek adalah memasak, dan juga karena Nenek selalu membuat masakan dengan segenap hati dan penuh cinta. Luar biasa karya Nenek kami tersayang.

Namun sayangnya Tuhan mempunyai rencana lain untuk Nenek kami, pada usianya ke-72 Nenek menderita kanker yang sudah stadium lanjut, sungguh masa-masa yang sangat menyedihkan 6 bulan terakhir kehidupannya. Sejak divonis dokter menderita kanker, Nenek tidak diberitahu apa penyakitnya, hanya dia selalu bertanya kenapa sekarang mudah lelah, nafsu makan berkurang, badan menjadi kurus, dan aktivitasnya semakin sulit apalagi memasak.

Saat masih bisa memasak, meskipun sakit Nenek tetap berusaha memasak. Kami sudah berusaha melarangnya dan menyuruh beristirahat, namun Nenek merasa nganggur tidak ada yang dikerjakan. Betul-betul semangat dan passion memasak yang luar biasa.

Perlahan kanker semakin menjalar ke paru-paru dan tulang, sehingga Nenek mulai susah untuk berjalan, sering mengalami sesak nafas dan harus lebih banyak berbaring di tempat tidur.

Makanan apapun yang lezat dan dari restoran manapun, tidak bisa membuat Nenek makan dengan enak, nafsu makannya sudah hilang, semua makanan hanya dua atau tiga sendok saja yang bisa masuk, itupun agak dipaksa. Buah durian kesukaan Nenek pun tidak terasa enak saat dimakan. Kasihan sekali Nenek.

Namun ada saat yang paling memilukan untuk saya, yang tidak dapat saya lupakan sampai sekarang, bahkan hal inilah yang mengubah hidup saya yang semula tidak suka memasak, tidak suka berkutat di dapur, sekarang saya mau belajar memasak dengan sungguh-sungguh, dan memasak dengan cinta seperti teladan dari Nenek.

Saat sakit, Nenek selalu menanyakan siapa yang masak, lalu ada makanan apa di meja makan. Kadang saya yang masak dengan mempelajari resep di internet, asal jadi saja wong saya jarang di dapur. Kadang saya beli dibungkus lalu jadi lauk di rumah. Meskipun Nenek sakit, selalu ada makanan di meja makan. Mungkin lebih banyak menu yang saya beli diluar, atau telor atau indomie, hiks.

Hingga suatu saat Nenek sudah tidak bisa berdiri lagi, karena kakinya melemah akibat kanker yang menjalar ke tulang pinggulnya. Saat itu Nenek hanya bisa berbaring di tempat tidurnya, membalikkan badannya sendiri ke kanan atau kiri sudah tidak bisa lagi, Nenek dibantu oleh seorang perawat. Dan nafasnya sudah mulai sering sesak, karena penyakit ganas ini juga menjalar ke paru-parunya. Nenek mulai sering kehilangan kesadarannya, kadang mengingau, lalu dibangunkan sadar kembali.

Suatu saat diantara keadaan sadar atau tidak, Nenek berkata kepada saya dengan suara lirih dan lemah, “Itu di meja makan ada rawon nanti jangan lupa dipanasi ya untuk anak-anak makan” (rawon untuk anak saya/cucu-cucunya maksudnya).

Saya yang mendengar kalimat tersebut tercekat tak bisa menjawab apa-apa, terasa sedih sekali dan menyesak di dada … bahkan disaat Nenek kritis pun masih memikirkan menyiapkan makanan untuk cucu-cucunya? Saya yakin saat itu Nenek tidak sadar 100% karena 4 bulan terakhir Nenek sudah tidak memasak lagi, bahkan saat itu tidak ada rawon di meja makan kami.

Saya ingin menangis setiap kali mengingat perkataan Nenek ini, dan peristiwa tersebut sangat menyentuh dan mengubah kehidupan saya hingga saat ini.

Ternyata sampai akhir hidupnya, Nenek sungguh sangat mencintai kami sekeluarga, melalui kata-kata terakhirnya yang terucap adalah memasak dan menyiapkan Rawon untuk kami … rasa Rawon buatan Nenek memang tiada duanya, tapi bukti cintanya kepada kami sekeluarga, sungguh tiada tandingannya …

Semenjak Nenek pergi meninggalkan kami untuk selamanya, saya pun bertekad untuk belajar memasak. Terlambat memang secara usia … karena sekarang master chef kecil pun sudah ada … tapi saya ingin belajar dari Ibuku tersayang, bahwa memasak harus dilakukan dengan setia dan penuh cinta …

Yuk belajar memasak seperti saya hehehe … late better than never …