HOME
Home » Pengalaman Pribadi » Foto Keluarga Mesra, haruskah? Alasan Mengapa Kita harus berpose Mesra saat difoto – Sharing Setelah Mengikuti Retret Family Deeper GMS

Foto Keluarga Mesra, haruskah? Alasan Mengapa Kita harus berpose Mesra saat difoto – Sharing Setelah Mengikuti Retret Family Deeper GMS

Posted at July 18th, 2017 | Categorised in Pengalaman Pribadi

Judul tulisan yang aneh ya hehehe … tulisan ini saya buat setelah mengikuti family retret bertema “Deeper”.

Apa saja yang saya dapatkan melalui retret tersebut adalah tentang mengapa kita harus berpose mesra saat difoto … silahkan nikmati sharing dari saya tentang kemesraan keluarga …

Saya dan suami sudah menikah selama 17 tahun, sungguh luar biasa penyertaan Tuhan dalam kehidupan rumah tangga kami, meskipun suka ataupun duka, masalah-masalah, beban hidup selalu datang dan juga hilang silih berganti, tapi hingga saat ini keluarga kami “baik-baik saja” relatif aman tanpa masalah yang berarti hehehe … thanks God.

Namun ternyata, setelah mengikuti retret family selama 2 hari di hotel Aston, ada sesuatu yang baru, yang saya baru menyadarinya, yaitu tentang kemesraan dalam keluarga, salah satunya pose kami sekeluarga saat difoto. Mungkin banyak orang yang menyepelekan hal ini, seperti saya sebelumnya.

mempunyai visi Tuhan membuat keluarga bahagiaDulu saya melihat foto mesra keluarga lain atau foto mesra suami isteri teman-teman ataupun saudara, saya tidak pernah sedikitpun merasa iri ataupun menginginkan berfoto dalam pose mesra tersebut. Bagi saya, ah keluargaku selama ini baik-baik saja, rukun-rukun dan damai selalu … jadi meskipun foto kami entah berdua suami isteri ataupun foto dengan anak-anak, adalah pose kaku ala pas foto pun, tidak masalah bagi saya. Suami saya pun beranggapan yang sama, kompak kan? Hehehe … itulah tandanya hubungan kami sekeluarga fine-fine saja.

Tapi semua mindset berubah saat saya mendapatkan sesuatu dalam retret kemarin. Tujuan dari hidup kita berumah tangga adalah hidup sesuai dengan visi Tuhan, yaitu selalu melayani jiwa-jiwa untuk Tuhan. Dengan kata lain, hidup kita harus selalu menjadi berkat untuk orang lain dan bermanfaat untuk orang lain. Dengan hidup sesuai visi Tuhan, maka hidup keluarga kita pasti akan selalu bahagia, harmonis, mesra dan tidak pernah jenuh atau penat menjalani bahtera kehidupan bersama keluarga.

Kenapa menjalankan visi Tuhan membuat hidup keluarga menjadi harmonis dan bahagia? Tentu saja. Mau menjalani hidup dengan menjalankan visi Tuhan, tandanya kita mau hidup dekat dengan Tuhan. Mengenal Tuhan dengan benar, berarti kita hidup sesuai teladanNya. Dan Tuhan saya mengajarkan kepada murid-muridNya untuk menjadi penjala manusia, bukan penjala ikan. Artinya memenangkan jiwa-jiwa, bukan hanya hidup untuk mengejar materi atau hal-hal tentang duniawi. Dengan menjadi penjala manusia akan menyenangkan hatiNya, dan bayangkan saja jika Pemilik langit dan Bumi ini senang dengan apa yang kita lakukan, apakah sulit untuk meminta sesuatu yang kita perlukan? Atau lebih mudahnya, bayangkan ada seorang anak yang selalu patuh dan taat kepada Ayahnya, selalu membuat bangga dan menyenangkan hati ayahnya. Jika anak ini meminta sesuatu pada Ayahnya bukankah Ayahnya akan memberikannya dengan senang hati? Dengan menyenangkan hatiNya, maka apapun yang kita minta, pasti akan diberikan. Orangtua kita bahkan selalu memikirkan bagaimana agar putra putri nya bahagia. Begitu juga kebahagiaan yang kita inginkan dalam keluarga sudah pasti akan dicurahkan Tuhan, keluarga yang rukun, mesra, dan bahagia.

Banyak orang menjalani hidup rumah tangganya hanya demi KOMITMEN. Ya komitmen pernikahan, apapun yang terjadi dalam suka dan duka akan selalu bersama-sama, tapi kalau hidup bersama terasa hambar dan melelahkan, apakah indah? Memang meskipun hambar dan melelahkan, keluarga terlihat baik-baik saja, tetap tampak rukun tanpa masalah. Mungkin seperti inilah kehidupan rumah tangga saya sebelumnya. Tampak “baik-baik saja”.

Saya dan suami merasa sangat diberkati dengan kehidupan Bpk. Adrian Sarwono dan Ibu Lely Darmajani, sepasang suami isteri pengusaha, yang hidupnya sudah berkelimpahan, mau memberikan waktu libur mereka yang berharga (karena mereka sangat sibuk tentunya), untuk memberikan pelayanan family retret di kota kami.

Kalo dipikir-pikir, ngapain ya orang sudah kaya mau repot-repot melayani ke kota-kota kecil untuk menjadi pembicara, bukannya lebih enak quality time bersama keluarga di hari libur mereka? Pada hari biasa mereka pasti sibuk dengan urusan di kantor dan juga pelayanan. Karena sepasang suami isteri ini sungguh hidup sesuai dengan visi Tuhan, yaitu melayani jiwa-jiwa. Luar biasa bukan?

Kehidupan Bpk Adrian dan Ibu Lely sangat harmonis dan mesra, berpakaian saja harus serasi, kalau isteri bajunya merah, maka suami harus memakai baju yang ada warna merah yang sama juga. Bahkan warna pink di esok harinya, mereka juga serasi pinky couple. Mungkinkah mereka hanya show a force? Property panggung saja mungkin? Hehehe … jika tak kenal maka tak sayang, saya memang baru tahu kedua pembicara ini saat retret tersebut, tapi saya sudah mengeceknya melalui instagram bapak dan ibu Adrian, bahkan instagram anak-anak mereka, semuanya menunjukkan keluarga mereka sungguh harmonis dan mesra, tidak palsu. Luar biasa banget.

Salah satu yang paling membuat kami kagum dan hal ini memberkati saya banget, adalah saat Pak Adrian menyuruh isterinya maju ke panggung, lalu dia menunjukkan gaya foto mesra mereka berdua jika difoto. Mereka berpose sangat luwes seperti model, mesra dan keren banget deh gayanya. Lalu Pak Adrian bercerita bahwa sebelumnya dia adalah tipe orang yang nggak bisa berfoto, cuek banget, bergaya ala pas foto aja kalo dijepret. What? Iya seperti itu ceritanya, sedangkan isterinya adalah orang yang hoby difoto.

Tapi karena Pak Adrian mengasihi Tuhan, sudah pasti dia mengasihi isterinya, sehingga apa yang menjadi kesukaan isterinya sekarang menjadi kesukaannya juga. Bagaimana caranya kok bisa luwes bergaya saat difoto? Ya latihan, begitu kata Pak Adrian. Bahkan pergi kemana-mana saat liburan ke luar negeri, Pak Adrian selalu membawa tripot demi bisa berpose mesra dengan isterinya yang suka berfoto. Bahkan penjual kamera pun mengira Pak Adrian adalah seorang photographer professional karena sekali bepergian dengan isterinya, menghabiskan sekitar 15.000 jepretan, jadi setahun kameranya terpakai sekitar 150.000 jepretan, wow … bahkan tukang foto aja kalah wkwkwk

Demikian sebaliknya, isterinya suka makan diluar rumah bersama keluarga karena sibuk tidak sempat memasak, sedangkan Pak Adrian dari kecil hingga besar lebih suka makan bersama keluarga di rumah. Karena Ibu Lely mengasihi Tuhan, sudah pasti dia juga mengasihi suaminya, maka GOJEK pun menjadi solusinya … wkwkwk menyuruh gojek membeli makanan apa saja yang mereka inginkan, tapi tetap makan bersama sekeluarga di rumah. Keren kan?

Sungguh pasangan yang luar biasa. Melihat foto-foto mereka yang sangat mesra membuat saya belajar hal baru lagi, ternyata melihat foto keluarga yang mesra, kita yang melihatnya pun merasa ikut senang (merasa diberkati).

Artinya jika saya dan suami berubah pikiran untuk berfoto mesra agar teman-teman atau saudara di sekeliling kami yang melihatnya merasa diberkati, why not? Semuanya hanya untuk Tuhan, yang kita lakukan haruslah menjadi berkat untuk orang lain. Hanya melalui foto mesra? Hahaha … ini salah satunya, yang paling penting dan lebih penting adalah kehidupan suami isteri yang benar-benar takut akan Tuhan, menjadikan Dia kepala dalam rumah tangga kami, sehingga melalui foto pun, orang lain akan merasa diberkati seperti saya melihat foto-foto mesra pembicara kami.

Ayo mulai sekarang, kalo foto-foto yang mesra yaaa hehehe … Dan semoga kami sekeluarga pun bisa bergaya mesra saat difoto, semoga lhooo … hiks maklum bukan model sih ya hehe …

Thank You sudah mau membaca sharing dariku … Thanks You Lord, sudah memberiku pengertian baru agar keluargaku bahagia maka kami harus mempunyai tujuan hidup sesuai visi Mu Tuhan.