Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
HOME
Home » Pengalaman Pribadi » Anak-Anak dan Keindahannya » Sekolah » Bagaimana Menghadapi Bahaya Internet untuk Anak-Anak – Pilih Internet atau No Internet – Internet adalah Jendela Dunia

Bagaimana Menghadapi Bahaya Internet untuk Anak-Anak – Pilih Internet atau No Internet – Internet adalah Jendela Dunia

Posted at August 14th, 2017 | Categorised in Pengalaman Pribadi, Anak-Anak dan Keindahannya, Sekolah

Dalam pertemuan orang tua murid SD kelas 6 kemarin, saya menyimak ada seorang Ibu yang menyampaikan usulannya pada sesi Tanya jawab :

“Bu Guru, kalau bisa anak-anak jangan diberi tugas yang berhubungan dengan internet. Karena kemarin saat ada tugas yang harus mencari lewat internet, saat itu saya mendampingi anak saya, eh saat sedang browsing mencari gambar-gambar sesuai tugas dari sekolah, tiba-tiba muncul gambar-gambar negatif yang tidak sesuai untuk anak-anak. Untungnya saat itu saya mendampingi anak saya, coba kalo dia sendirian … gimana coba?”

Seperti itulah usulan Ibu ini kepada sekolah. Ya, Ibu ini mengkuatirkan bahaya internet untuk anak-anak. Dan saya tersenyum memikirkan dunia yang semakin maju ini, anak-anak diusulkan hidup tanpa ada internet.

Bagaimana Menghadapi Bahaya Internet untuk Anak-AnakSekarang ini bisa dikatakan internet menjadi salah satu kebutuhan hidup manusia. Dari anak-anak, remaja, hingga sudah lanjut usia pun, semuanya merasakan hidup terasa hampa tanpa adanya internet. Kok bisa ya?

Keponakan saya sejak usianya 2 tahun, jika dia memegang ipadnya, langsung terucap secara otomatis, Mami internetnya mami … dia minta ibunya untuk menyambungkan wifi pada ipadnya, sehingga dia bisa memilih dan menonton channel youtube kesukaannya.

Berbeda kebutuhan untuk anak-anak usia SD, SMP ke atas (usia sekolah), mereka memerlukan internet untuk media sosial, bermain games, menonton youtube, membaca webtoon, menjadi stalker di medsos dan juga mencari informasi di google untuk tugas-tugas sekolahnya.

Lalu bagaimana dengan para manula? Kakek dan Nenek tidak ketinggalan juga merasakan manfaat internet, mereka suka membaca berita di hp, mendengarkan lagu-lagu nostalgia yang mereka sukai saat muda dulu, membaca artikel tentang kesehatan, berhaha hihi dengan teman-teman seusianya yang masih hidup serta berkirim-kirim foto2 melalui medsos dan juga menonton channel youtube yang menghibur.

Saya merenungkan kembali 30 tahun yang lalu … saat dimana masa kecilku sangat bahagia tanpa internet. Bermain bersama teman-teman yang rumahnya berdekatan dengan rumahku, berlarian kesana kemari, bermain petak umpet, benteng-bentengan, engkle, gobak sodor, naik sepeda ke sekolah dan juga mendatangi rumah teman-temanku, bahkan menulis surat kepada sahabat pena majalah Bobo. Senangnyaaaaa … masa kecilku dulu yang penuh kebebasan dan kedamaian. No Handphone, No Internet.

Alat komunikasi yang populer saat itu hanya telepon rumah, telegram, break-break an (radio control) dan surat via kantor pos.

Jika ada soal-soal sulit dalam PR dari sekolah, dan saya tidak bisa mengerjakannya, maka saya segera menelpon satu atau dua sahabat baikku untuk meminta bantuan cara mengerjakan PR tersebut. Sempat ngetrend saat itu komunikasi via ngebreak, copy … ganti … rojer2 … ganti … hahaha sudah banyak yang lupa istilahnya. Kadang-kadang saya juga ngebreak untuk menghubungi teman-teman. Saat itu dunia terasa indah meskipun belum lahir yang namanya internet.

Sepulang sekolah saya sangat senang menerima sepucuk surat dari sahabat pena ku di Bandung, meskipun hanya berkenalan lewat majalah bobo, lalu kami pun berbalas-balasan melalui surat. Rasanya akrab sekali membaca surat balasan dari sahabat pena ku, padahal kami sama sekali belum pernah bertemu muka. Melalui surat kami bertukar foto, dan setiap kali surat datang, aku sangat antusias, dan sesegera mungkin menulis kembali surat balasan kepadanya. Tak lupa kami selalu menuliskan quote manis di jaman itu … hahaha …

4×4 = 16 … Sempat tidak sempat harus dibalas ya Sahabatku …

Indahnya masa kecilku hehehe …

Jadi lebih memilih jaman dulu tanpa Internet atau sekarang?

Anak-anak sekarang jarang keluar rumah selain pergi ke sekolah, les, dan juga jalan-jalan ke mall sebagai hiburan mereka.

Bermain ke rumah teman? Hanya jika diperlukan saja, misal tugas kerja kelompok dari sekolah. Atau jika rumah teman dekat dengan rumahku.

Kuper? Kurang pergaulan? Jelas tidak. Mereka melakukan komunikasi intens bersama teman-teman mereka di media sosial hanya melalui gadget di tangan mereka. Anak-anak sekarang sukanya tertawa atau senyum-senyum sendirian di kamarnya sambil memegang gadgetnya. Mereka rumpi ria bersama teman-temannya melalui handphone.

Tidak heran anak-anak sekarang betah berjam-jam memegangi hp nya, banyak aktivitas yang dapat mereka lakukan hanya dengan 1 hp saja … asal ada koneksi internetnya yaaa …

Biasanya kakek nenek (generasi sebelum lahirnya internet) yang suka menganggap cucunya pemalas. Ayo keluar kamarrrr … kenapa kerjaanmu hanya bermalas-malasan di kamar? Kalo gini terus besar nanti mau jadi apa kamu? Mana bisa cari duit kalo kerjaannya malas-malasan di kamar mulu?

Hehe … rupanya ini kakek nenek yang kudet alias kurang update, anak-anak jaman sekarang pinter-pinter semua lho … dengan adanya internet kreativitas mereka berkembang luar biasa …

Hanya dengan duduk manis di depan laptop ditemani hp nya, di dalam kamarpun mereka pintar mencari uang lhoooo … ada yang menjadi dropshipper toko online, ada yang menjadi youtuber, ada yang hobi nya ngeblog (menjadi seorang blogger), menjadi instagram seleb, menjadi tenaga admin yang digaji oleh toko-toko online besar di instagram mempromosikan toko mereka, bahkan ada yang menjadi penulis konten.

Bahkan siswa-siswi SMA pun sekarang hebat-hebat, mereka bisa berbisnis online … just because there is internet.

Bagaimana Menghadapi Bahaya Internet untuk Anak-Anak

Internet jika digunakan secara positif akan membawa kebaikan untuk anak-anak, meskipun sangat beresiko tinggi jika mereka tidak mempunyai iman yang kuat.

Internet membuat dunia yang tadinya luas dan jauh seperti mimpi untuk bisa menjelajahinya, sekarang menjadi mudah di dalam genggaman tangan anak-anak kita.

Sebagai orang yang pernah hidup di dua jaman berbeda, yaitu jaman dulu no internet dan jaman sekarang dengan internet, jika saya disuruh memilih … saya tetap memilih jaman sekarang.

Karena di jaman internet sekarang ini, semuanya menjadi mudah, cepat, dan menyenangkan ,,,

Menulis surat untuk sahabat pena? Hahaha … udah kuno banget, cari kenalan lewat facebook, instagram, dan macam-macam media sosial lainnya maka kita bisa menemukan ribuan sahabat pena. Tulis surat via pos? Lama banget sampe nya …

Sekarang tinggal “send” lewat hp maka semua pesan dan kesan lengkap terkirim dengan emoticon perasaan kita, langsung sampailah ke tangan sahabat kita tanpa perlu menunggu kiriman Pak Pos kelamaan.

Dan yang paling menyenangkan adalah … ketika anak-anak kita mulai dewasa dan harus berada jauh dari kita, maka kita tetap bisa merasa dekat dengan mereka meskipun hanya melalui gadget. Bravo internet.

Meskipun kita tidak bisa membelai anak kita, namun kita tetap bisa melihat keadaan mereka melalui video call, bisa melihat anak-anak tersenyum bahagia, selalu sehat ya Nak meskipun jauh dari rumah, namun kita tetap dekat di hp hahaha … selalu dekat di hati tentunya.

Jangan kuatir dengan pengaruh negatif dari internet, semua bisa kita atasi secara dini yaitu dengan menanamkan iman yang teguh kepada anak-anak kita. Sehingga Tuhan yang akan memimpin mereka untuk bisa menentukan mana hal baik dan mana hal yang buruk dan tidak boleh dilakukan.

Berikan edukasi tentang porxxgrafi, bahaya kecanduan, dan pendidikan seks kepada anak-anak kita, supaya mereka mengerti mengapa mereka tidak boleh mengakses situs-situs negatif yang tidak sesuai untuk anak-anak.

Terkadang membicarakan hal sensitif seperti ini kepada anak-anak, kita merasa kurang nyaman, ataupun kita kesulitan menyampaikannya. Saya menyiasatinya dengan membeli buku-buku tentang pubertas kepada anak-anak saya sejak mereka kelas 5 SD. Sebagai contoh, saat menstruasi tiba, anak-anak saya tidak terlalu terkejut atau kebingungan. Mereka sudah mengerti mengapa hal tersebut terjadi pada setiap wanita.

Buku-buku Pubertas hadir dengan bahasa komik yang menyenangkan disertai gambar, anak-anak saya sangat menyukainya dan mereka mudah mengerti. Sesekali mereka menanyakan hal-hal yang kurang dimengerti, saya dan suami berusaha menjelaskan dengan serius, tidak boleh dengan nada bercanda.

Dan yang lebih penting lagi adalah, anak-anak harus takut akan Tuhan, bukan takut kepada orangtua … iman yang teguh akan membuat anak-anak mengerti, ada mata yang selalu mengawasi perbuatan mereka … meskipun mata orang tua dan guru tidak bisa menjangkaunya. Iman sangat penting di dalam kehidupan anak-anak dalam menghadapi dunia yang semakin rusak dan penuh dosa ini.

Dan ternyata, apa yang kami lakukan cukup membawa hasil yang lumayan … suatu kali si bungsu melaporkan kepada saya, Ibu kenapa ketika saya bermain games di tablet, tiba-tiba muncul gambar pop up dua orang tanpa busana? Dan suami saya segera me-reset dan install ulang aplikasinya. Intinya adalah, anak tahu bahwa gambar tersebut tidak benar. Saya memujinya karena dia pintar, tahu bahwa itu hal yang tidak baik.

Biarlah dengan semakin maju bidang tehnologi dan internet, hidup kita dan anak-anak menjadi lebih mudah dan bahagia. Stay positif and don’t be afraid … bersama Dia kita pasti sanggup mendidik anak-anak untuk menggunakan internet secara positif.