HOME
Home » Menjadi Orang Sukses » Pengalaman Pribadi » Saya Mau Memiliki Visi yang Besar – Bagaimana jika Seseorang tidak memiliki visi yang besar?

Saya Mau Memiliki Visi yang Besar – Bagaimana jika Seseorang tidak memiliki visi yang besar?

Posted at August 10th, 2016 | Categorised in Menjadi Orang Sukses, Pengalaman Pribadi

“Jika Anda tidak memiliki visi, maka tidak ada hal yang akan terjadi”
(Christopher Reeve)

Dulu saya berpikir, yang bisa memiliki visi besar adalah orang-orang kaya, orang-orang yang hidup di kota besar atau orang-orang pintar, kalau untuk saya dari kalangan biasa-biasa gini mah … punya visi besar ataupun tidak, nggak ngaruh deh kayaknya. Tapi itu dulu, saya menjalani hidup mengalir saja tanpa memiliki visi dan mimpi di masa depan.

bagaimana jika tidak mempunyai visi yang besarSekarang saya menjalani hidup yang berbeda setelah saya memiliki visi yang besar, dan saya percaya setiap orang pun harus punya visi yang besar dalam menjalani hidup di dunia ini.

Menjalani kehidupan ini tanpa memiliki visi yang besar, sama dengan kita setiap hari makan nasi putih tanpa ikan/tanpa lauk, terasa hambar dan membosankan, bahkan jika tidak terasa lapar pun lebih baik tidak usah makan saja, karena hanya nasi putih saja :(

Dari pengalaman hidup yang saya alami, sejak kecil saya dibesarkan di desa Muncar dalam keluarga yang biasa-biasa saja, bukan keluarga kaya. Naik bis, kereta api, kendaraan umum, becak, delman, sepeda, adalah transportasi kami sehari-hari. Pesawat terbang baru pertama kali saya naik sebulan setelah menikah. Karena orangtua kami tidak mempunyai kendaraan pribadi, jadi kendaraan umum menjadi kaki kami jika ingin bepergian.

Dengan kehidupan seperti itu, saya menjalani hidup mengalir saja, bermain, sekolah hingga lulus SMA, kemudian kuliah tidak selesai karena orangtua tidak sanggup membiayai. Lalu saya bekerja di sebuah perusahaan Cat di Surabaya, sampai akhirnya saya menikah dengan seorang dokter umum yang sangat menginspirasi saya.

Sama seperti pasangan muda yang baru menikah pada umumnya, kami juga mendambakan rumah tangga yang berkecukupan, sehat-sehat selalu dan memiliki anak-anak yang hebat (our vision).

Dengan visi yang sederhana itu, kami menjalani hidup yang bahagia dengan dikaruniakan dua anak cantik dan hebat oleh Tuhan. Dan kami semangat bekerja untuk mendapatkan cukup uang untuk membiayai keluarga kami dan sekolah anak-anak.

Tidak selalu jalan mulus yang kami lalui, ada banyak persoalan dan rintangan yang harus kami lewati. Ada waktu tertentu seakan kami berjalan di atas cangkang telur yang mudah retak, di jalan yang berlubang, berbatu-batu, berkerikil, bahkan berlumpur. Sering juga kami merasa sangat lelah, putus asa, bahkan hilang kebahagiaan saat kesulitan-kesulitan datang menghampiri kami.

Misalnya? Profesi suamiku adalah dokter umum. Menjadi seorang dokter adalah mimpi dari banyak anak-anak. Statistik menunjukkan jumlah peminat yang mendaftar di fakultas kedokteran masih menduduki nomor 1 saat ini, bersaing ketat dengan jurusan IT (Informasi Tehnologi). Hal ini membuktikan banyak sekali siswa yang mempunyai cita-cita menjadi seorang dokter.

Dan suamiku adalah seorang dokter umum, berpraktek swasta setelah menyelesikan tugas PTT nya selama 3 tahun. Saya sendiri berhenti bekerja saat mendekati kelahiran anak pertama saya, karena harus merawatnya sendiri.

Sejak awal merintis pekerjaannya sebagai seorang dokter, Tuhan selalu mencukupkan segala kebutuhan kami. Namun seiring perkembangan waktu, jumlah anggota keluargaku bertambah, anak-anak semakin besar, orangtua semakin tua sering sakit, maka biaya hidup yang kami perlukan semakin meningkat.

Dan sejak pemerintah memberlakukan program kesehatan BPJS yang wajib diikuti oleh seluruh rakyat Indonesia, maka jumlah pasien menurun drastis. Mereka yang biasanya berobat ke dokter swasta jika mengalami sakit, sekarang berduyun-duyun menikmati fasilitas berobat gratis dari BPJS (asal membayar iuran tepat waktu).

Suami saya pun mengalami keputusasaan yang sangat. Seperti inikah masa depan dokter yang diidam-idamkan oleh banyak orang? Suami saya banyak mengikuti forum/grup media sosial yang berisi teman-teman dokter sekampusnya dulu, beberapa dari mereka yang bergabung sebagai dokter BPJS mengatakan, mereka seperti bekerja rodi dengan digaji ala kadarnya oleh BPJS. Jam praktek wajib minimal 8 jam per hari, dan peraturan-peraturan lain yang kurang fleksibel.

Menimbang-nimbang banyak hal, suami saya masih belum sanggup memutuskan menjadi dokter BPJS, karena mendaftarkan diri sebagai dokter BPJS juga dipersulit, yang issue nya harus sekolah lagi dulu (layanan primer), trus harus punya klinik yang memenuhi syarat, pokoknya banyak sekali syarat2nya.

Lalu bagaimana? Padahal biaya hidup terus berjalan, bahkan semakin tinggi saja dari hari ke hari. Benar-benar waktu yang sulit untuk kami berdua, bahkan kami tidak mampu berteriak minta tolong kepada siapapun … benar-benar putus asa karena pekerjaan seorang dokter pun sekarang menjadi sulit karena BPJS, bahkan rumornya mengatakan ke depannya nanti praktek dokter swasta akan dihapuskan, semua dokter WAJIB bergabung menjadi dokter BPJS.

Suami saya sangat down dan mulai menyalahkan diri sendiri. Jika tahu akhir dari profesi dokter bakal begini, tentu suamiku tidak akan memilih kuliah kedokteran. Lalu, misalnya mau melanjutkan sekolah spesialis juga tidak bisa lagi karena keterbatasan usia. Jadi kondisi isi benar-benar sangat sulit untuk kami berdua.

Saya sendiri hanya seorang ibu rumah tangga tanpa gelar sarjana + sudah tidak muda lagi, harus mencari kerja apa sekarang? Menyesal sekali karena saya juga tidak memiliki keahlian apa-apa. Ingin mencoba les menjahit, tapi mata sudah mulai kalah memasuki usia kepala 4.

Pada kondisi sangat sulit ini, bagaimana kami harus memiliki visi besar? Sedih sekali memikirkannya, seakan-akan kenapa Tuhan menutup semua jalan pekerjaan untuk kami.

jika tidak miliki visiNamun pilihan tetap ada di tangan kami, meskipun kami hilang pengharapan, disaat kami sudah sangat letih, lelah dan putus asa, kami tetap memilih untuk memiliki VISI yang BESAR, bagaimana caranya?

1. Iman kami harus tetap kuat, tanpa iman tidak mungkin kami sanggup mengarungi lautan kehidupan yang sangat luas dan kejam ini. Iman menunjukkan bahwa manusia terbatas, tapi ada Kuasa Tuhan yang tidak terbatas, dapat menolong dan menyertai kita semua.

2. Selalu Berpikir Positif. Di saat suami mengeluh tentang kekuatiran dan masa depannya, saya mencoba mengatakan hal-hal berikut :

  • Yang mengalami masalah ini (profesi dokter umum sedang sulit karena BPJS) bukan hanya kamu seorang kan? Diluar sana banyak juga dokter-dokter umum lain yang mengalaminya, sabarlah pasti nanti akan ada jalan keluar untuk semua dokter umum.
  • Coba untuk berpikir positif, anggap saja saat ini kamu tidak punya gelar dokter (disimpan dulu gelarnya di gudang wkwkwk), apakah kamu tidak bisa mencari peluang lain/usaha lainnya? Pasti bisa dong
  • Selain dokter, banyak juga orang-orang yang sedang mengalami kesulitan seperti kita, namun percayalah, dan tetap semangat, pasti ada jalan keluarnya.

3. Belajar Mengucap Syukur dan Mencukupkan diri (mengatur keuangan)
Tidak mudah untuk mengucap syukur di saat sulit, namun kami belajar melakukannya. Di saat anak-anak menginginkan liburan seperti teman-temannya, atau menginginkan gadget yang canggih, dll. kami tidak bisa memenuhinya, namun kami memberikan pengertian-pengertian kepada anak-anak kami, dan luar biasa kami memiliki anak-anak hebat yang bisa mengerti keadaan kami.

4. Mencari Peluang Baru
Jangan bosan-bosan dengan kegagalan usaha Anda, teruslah mencoba dan mencari peluang-peluang usaha yang baru. Dan kami pun terus mencoba melakukannya.

5. Tekun dan Tetap Semangat
Karena ketekunan itu menghasilkan tahan uji (daya tahan yang kuat)

Visi kami sekarang adalah, bekerja sendiri di rumah melalui internet, bahkan kelak kami akan pensiun dengan pekerjaan yang kami lakukan di rumah saja. Menyaksikan dan menikmati hari-hari kami mendampingi anak-anak kami menjadi orang yang sukses dan bahagia.

Tidak perduli profesi dokter nya mau dikemanain, yang penting kami tetap percaya dan selalu percaya, Tuhan pasti mencukupkan segala kebutuhan kami, dan kami sangat bersyukur untuk keajaiban-keajaiban yang dibuatNya dalam kehidupan kami.

Kesimpulan :
Kehidupan biasa atau luar biasa, sangat bergantung pada ketajaman dan kekuatan visi yang kita bangun, dan itu adalah pilihan. Mari kita memilih untuk memiliki visi yang besar, agar kita menjadi orang yang sukses dan berbahagia.