Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
HOME
Home » Masalah dalam Keluarga » Pengalaman Pribadi » Benarkah Semua Orang Tua Menyusahkan Anaknya di Masa Tuanya?

Benarkah Semua Orang Tua Menyusahkan Anaknya di Masa Tuanya?

Posted at January 21st, 2016 | Categorised in Masalah dalam Keluarga, Pengalaman Pribadi
Kenapa orangtua menyusahkan anak

Tinggal satu atap dan merawat orang tua bukan perkara yang mudah untuk dilakukan. Karena selalu ada perbedaan pemikiran antara orangtua dan anak, yang menyebabkan gesekan/kejengkelan bahkan pertengkaran. Lalu, Benarkah Semua Orang Tua Menyusahkan Anaknya di Masa Tuanya?

Contoh-Contoh Sikap Orang Tua yang Menyusahkan Anaknya di Masa Tua

Aduh cerewet amat mama saya … suka ngomel dan marah-marah, pembantu nggak ada yang betah, keluar masuk setiap waktu. Lalu merasa curiga berlebihan, kuatir barang-barangnya hilang dicuri. Dan ketika Mama sudah tidak kuat memasak, baik masakan anaknya maupun masakan asisten rumah tangga semuanya tidak disukainya. Lalu misalnya si Mama ada keperluan mendesak untuk dilakukan, seperti membeli sesuatu, atau mengirim paket jne misalnya, ngga sabaran banget deh pokoknya, maunya diantar saat itu juga, buru-buru selalu. Lalu semakin melemahnya fisik orangtua,mereka makin tidak mampu menjaga kebersihan rumah dan kamar mandi, alias jorok. Udah tau badannya makin lemah, dibelikan kursi roda ngotot ngga mau pakai, maunya pakai tongkat aja, aduh nyusahin banget sih si papa. Belum lagi mama dengan kebiasaan buruknya menyimpan barang-barang bekas dengan pesan : siapa tahu nanti kita memerlukannya, jadilah rumah seperti gudang ngga ada rapinya. … Aduh ada banyak lagi hal-hal yang menyusahkan penghuni rumah yang tinggal serumah dengan orang tua. Namun sesungguhnya tidak benar jika kita mengatakan orang tua menyusahkan anaknya di masa tuanya, Mengapa?

orangtua menyusahkan anak?

Jika kita hanya melihat kelemahan-kelemahan orang tua kita di masa tuanya, sudah pasti mereka sangat menyusahkan kita anak-anaknya. Tapi cobalah untuk merubah cara pandang kita, mari kita mencoba memiliki pikiran positif tentang orang tua kita. Ingatlah kembali bahwa selama hidupnya papa mama kita sangat mengasihi kita anak-anaknya, mereka telah bekerja keras untuk menyekolahkan kita, untuk membiayai kehidupan kita, untuk menyediakan semua yang kita butuhkan (sesuai kemampuan mereka pastinya), bahkan sejak dari dalam kandungan, sewaktu kita masih bayi papa mama kita juga sudah sangat repot merawat, menhadapi kita yang nakal saat anak2 dan menyayangi kita. Ingatlah bahwa kasih orang tua kepada anaknya LEBIH BESAR jika dibandingkan sebaliknya, kasih anak kepada orang tuanya. Semua orangtua rela untuk memberikan semua harta nya di saat anaknya memerlukan, tetapi jika dibalik, apakah anaknya yang sudah berkeluarga rela memberikan semua hartanya di saat orangtua sakit dan membutuhkan biaya?

Seringkali kita mendengar ungkapan “Sorga ada di telapak kaki Ibu”, atau di dalam kitab suci juga dikatakan “Hormatilah Ayah Ibumu supaya lanjut umurmu di bumi”. Tanpa adanya orangtua, tidak mungkin kita ada dalam dunia ini. Jangan kecewa jika orang tua tidak sehebat orangtua teman kita, tidak sekaya ortu si A, tidak seterkenal mamanya si B, tidak sebaik papanya si C, dll. Siapapun orangtua di dunia ini, akan selalu mengasihi anaknya, bahkan tidak mungkin seorang ayah atau ibu akan memberikan batu kepada anaknya yang merengek kelaparan, mereka pasti akan mengusahakannya apapun caranya. Karena itu siapapun orangtua kita, kita wajib menghormati dan menyayangi mereka. Usia mereka sudah lanjut, buatlah hati mereka senang, berikan hal-hal yang mereka sukai. Jika kelak mereka sudah dipanggil pulang ke sorga, tidak ada lagi penyesalan dalam hidup kita.

Lalu bagaimana cara menghadapi orang tua yang menyusahkan, cerewet dan jahat?

1. Suka ngomel dan marah karena merasa paling benar sendiri.

Aduh pembantu nggak ada yang betah. Mengapa orangtua suka ngomel dan marah terhadap asisten rumah tangga? Karena mereka merasa tidak nyaman bersama pembantu, karena mereka merasa masih kuat bekerja sendiri, karena nggak cocok dengan pekerjaan pembantu, karena menganggap pembantu kurang pintar, rugi membayar mahal tapi pekerjaan kurang bagus, karena ortu kurang telaten mengajari pembantu, karena pembantu suka mencuri, dll. Ada macam-macam alasannya.
Disaat mereka mengomel dan suka marah, biarkan saja, jangan membela pembantu. Dengan kita selalu membela pembantu, orangtua akan merasa sakit hati, mereka merasa kita anaknya lebih menyayangi pembantu daripada orangtuanya. Bahkan jika pembantu pulang, biarkan saja. Lalu bagaimana nih pekerjaan rumah kacau berantakan semua, pulang kerja udah capek masih harus bersih-bersih rumah dan masak pula? Ini adalah sikap kita mengasihi orangtua kita. Dengan berjalannya waktu, papa mama akan menyadari sendiri, betapa repotnya hidup tanpa pembantu, karena fisik dan tenaga mereka mulai menurun, bahkan mereka juga melihat kita anaknya yang sudah lelah pulang dari bekerja di kantor, masih harus membereskan pekerjaan rumah. Pada akhirnya mereka akan menyadari bahwa pembantu akan meringankan pekerjaan rumah kita, ada waktunya mereka akan menyerah. Tetaplah mengasihi papa mama kita walaupun melelahkan.

2. Paranoid / Curiga berlebihan

Jika kita perhatikan sekeliling kita, ada banyak sekali orangtua yang memiliki sifat curiga berlebihan, tidak mudah percaya pada orang lain, bahkan kuatir berlebihan. Mengapa? Sifat ini terbentuk berdasarkan pengalaman hidup mereka. Kebanyakan saat muda mereka banyak mengalami kerugian karena orang lain, hatinya terluka akibat kehilangan harta atau barang-barang lain yang dianggapnya berharga, sehingga timbullah sifat curiga berlebihan.

3. Masih Merasa Mampu

Kakinya mulai tidak kuat berjalan, sudah mau menggunakan tongkat, ber jalan pelan sekali. Keluarga kami ingin mengajak papa yang usianya 88 tahun berjalan-jalan di mall yang besar di kota Surabaya, kami selalu membawa kursi roda walaupun papa selalu marah tidak mau memakainya. Papa masih merasa mampu berjalan dengan menggunakan tongkat kesayangannya, dia mau terlihat sehat dan gagah. Tapi keadaannya menyusahkan keluarga yang lain dong, jalannya sangat pelan sehingga sangat membuang waktu jika hanya menunggui papa berjalan. Ingatlah, tetap mengasihi orangtua kita! Walaupun pada awalnya kami juga sangat jengkel karena banyak membuang waktu hanya menunggui papa berjalan, akhirnya kami sudah terbiasa menyiasatinya dengan cara “Piket Bergantian”. Satu atau dua orang anggota keluarga menemani papa yang berjalan pelan, lainnya boleh berpencar kemanapun hendak dituju, nanti waktu yang ditentukan kami janjian bertemu di tempat yang ditentukan. Seiring waktu berjalan, dengan semakin rapuhnya kakinya papa, dia sendiri akan meminta jalan-jalan dengan menggunakan kursi roda.

Ada banyak cerita teman-teman yang mengeluh merawat orangtuanya, ada yang bilang orangtuanya boros, nggak tau ya cari uang itu susah, nyusahin anaknya aja. Sifat boros juga terbentuk karena masa mudanya yang terbiasa hidup berkecukupan dan hobby belanja.

sayangilah orangtuamu seperti kamu menyayangi diri sendiri

Saya sangat suka menonton serial keluarga drama korea berjudul “Smile Honey” dalam 45 episode. Drama ini bercerita tentang seorang kakek yang sangat pelit dan hidupnya bekerja keras, bahkan anak-anak dan menantunya ngga tahan hidup serumah dengan si kakek ini. Namun setiap gesekan / perselisihan yang terjadi dalam keluarga tersebut, bukan didasari dari niat jahat, namun didasari untuk kebaikan, sehingga walaupun selalu bertengkar namun menjadi keluarga yang happy dan saling support.

Berikut adalah sebuah renungan tentang orangtua kita, terutama Ibu :

1. Saat makan, jika makanan kurang, ia akan memberikan makanan itu kepada anaknya dan berkata, “Cepatlah makan, IBU tidak lapar.”
2. Waktu makan, Ia selalu menyisihkan ikan dan daging untuk anaknya dan berkata, “AYAH lebih suka makan bagian kepala ikan, makanlah bagian badan ikannya nak…” (jelas lebih banyak bagian badan ikan daripada kepala ikan, bukan?)
3. Tengah malam saat dia sedang menjaga anaknya yang sakit, Ia berkata,“Istirahatlah nak, IBU masih belum ngantuk.”
4. Saat anak sudah tamat sekolah, bekerja, mengirimkan uang untuk AYAH. Ia berkata, “Simpanlah untuk keperluanmu nak, AYAH masih punya uang.”
5. Saat anak sudah sukses, menjemput IBU nya untuk tinggal dirumah besar, Ia lantas berkata, “Rumah tua kita sangat nyaman, IBU tidak terbiasa tinggal disana.”
6. Setelah menjelang tua, AYAH ataupun IBU sakit keras, anaknya akan menangis tetapi merka masih bisa tersenyum sambil berkata, “Jangan menangis nak, saya tidak apa-apa.” Ini adalah kebohongan terakhir yang dibuat AYAH ataupun IBU kita..
“Tidak peduli seberapa kaya kita, seberapa dewasanya kita, IBU dan AYAH selalu menganggap kita anak kecilnya, mengkhawatirkan diri kita tapi tidak pernah membiarkan kita mengkhawatirkan dirinya.”

Untuk kita renungkan :

Dari Renungan tadi kita memperoleh makna yang dalam bahwa kasih orangtua kepada anaknya tak bisa dinilai dengan apapun juga.

Diantara kita, mungkin banyak yang tidak sabar saat menghadapi orang tua yang sudah lanjut dan renta dimakan usia. Padahal pengorbanan mereka untuk mengasuh dan merawat kita sejak masih bayi hingga dewasa, bahkan bisa menjadi orang sukses tiada terkira. Tak dapat dinilai dengan apapun jua. Kesabaran mereka dalam menghadapi perilaku anak yang terkadang nakal dan bengal pun tak perlu diragukan lagi.

Kasih sayang orang tua tulus untuk anak-anaknya. Apa pun mereka lakukan demi kebaikan kita di masa mendatang. Khususnya ibu, ia rela membawa beban berat di perutnya saat masih mengandung kemudian mempertaruhkan nyawa saat melahirkan. Ia rela terbangun dari tidur lelapnya hanya karena mengganti popok yang basah karena kita ngompol. Ia pun mau tidak tidur karena tangisan kita yang lapar lalu memberikan ASI-nya. Dan ketika kita sakit, ibu juga yang begadang hingga semalaman karena harus menunggui anaknya tanpa menghiraukan letih dan lelah.

Lalu, saat ibunda berada di usia senja dengan tubuh renta dan lemah, mengapa kita menjadi tidak sabar melayaninya sebagaimana yang pernah mereka lakukan dulu kepada kita? Bahkan terkadang kata-kata tak sedap dan bentakan pun muncul dari mulut kita karena kerewelan orang tua.

Jangan lupakan peran ibu terhadap kita. Karena ibu menyayangi dan mengasihi kita jauh dari pamrih apapun jua. Biarpun sudah tua renta dan pikun, tidak sepantasnya kita memisahkan beliau dari sisi kehidupan kita. Apalagi sekedar dititipkan di panti jompo karena kita tidak ingin repot dan hanya untuk menghindari kerewelannya.
Kasih ibu tulus tak terhingga yang tiada berharap balasan dari anak-anaknya. Maka sayangilah ibumu khususnya dan orang tuamu pada umumnya.

Selagi mereka masih ada, kesempatan berbakti dan membalas kebaikan orang tua masih sangat terbuka. Kita akan merasa menyesal dan pasti sangat kehilangan tatkala mereka sudah pergi selamanya dan tidak lagi berada di tengah-tengah kehidupan kita.

Love Your Parents

Kesimpulannya, benarkah Semua Orang Tua Menyusahkan Anaknya di Masa Tuanya? Jawabannya iya jika kita selalu merasa kita lah yang benar. Namun mari kita memilih jawaban TIDAK MENYUSAHKAN meskipun kita merasa benar, karena kita sangat mengasihi mereka. Ingatlah papa mama kita sudah merawat kita sejak bayi hingga kita dewasa dan sukses seperti sekarang, Tinggal berapa lama lagi usia mereka? Senangkan hatinya, buat mereka bangga mempunyai anak seperti Anda, dan saya.